Inframenews.id, Pontianak – Minggu, 5 April 2026
Ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino yang dijuluki “Godzilla” mulai membayangi Indonesia.
Pemerintah pun memperkuat pengawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran selama musim kemarau tahun ini.
Melansir dari media Republika, Kementerian Kehutanan meningkatkan pengawasan karhutla di Kalimantan Barat seiring lonjakan titik panas dan potensi kekeringan akibat El Nino kuat yang diprediksi terjadi pada 2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena El Nino kuat yang berpotensi terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif akan berlangsung pada April hingga Oktober 2026.
Kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak dari kondisi tersebut mulai terlihat dari meningkatnya jumlah titik panas di Kalimantan Barat.
Hingga akhir Maret 2026, tercatat ribuan hotspot dengan luas kebakaran mencapai ratusan hektare yang tersebar di sejumlah daerah.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, pemerintah mengerahkan ratusan personel Manggala Agni serta memperkuat sistem deteksi dini dan koordinasi lintas sektor.
Pengawasan dinilai menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran sejak tahap awal.
Selain itu, aktivasi posko pengendalian karhutla juga dilakukan guna mempercepat respons di lapangan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering dari biasanya.
Istilah “Godzilla” sendiri digunakan untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang lebih besar dari kondisi normal, dengan dampak yang lebih luas terhadap cuaca global, termasuk peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Dengan kondisi ini, pemerintah mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah pencegahan guna meminimalkan dampak karhutla yang berpotensi terjadi sepanjang musim kemarau 2026.












