Scroll untuk baca artikel
Banner Inframenews - Perkaya wawasan Anda bersama Inframenews
Example floating
Example floating
HeadlineKesehatanNasional

Hantavirus Punya Dua Tipe, Ini Perbedaan Gejala dan Tingkat Bahayanya

14
×

Hantavirus Punya Dua Tipe, Ini Perbedaan Gejala dan Tingkat Bahayanya

Sebarkan artikel ini
Hantavirus memiliki dua tipe utama, yakni HFRS dan HPS. Keduanya memiliki gejala dan tingkat bahaya yang berbeda. (Ilustrasi AI)

Inframenews.id, Jakarta – Kamis 21 Mei 2026

Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan kasus di sejumlah negara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa virus ini memiliki dua tipe utama dengan gejala dan tingkat bahaya yang berbeda.

Melansir dari media MSN, Kementerian Kesehatan RI menyebut hantavirus terbagi dalam dua bentuk klinis utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Kedua tipe tersebut memiliki karakteristik gejala, tingkat fatalitas, hingga wilayah penyebaran yang berbeda.

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Gejala utamanya berupa demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, hingga kondisi khas berupa ikterik atau tubuh menguning. Tingkat kematian HFRS disebut berada pada kisaran 5 hingga 15 persen dengan masa inkubasi sekitar satu sampai dua minggu.

Sementara itu, HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika, terutama Amerika Selatan. Tipe ini menyerang paru-paru dan dinilai jauh lebih berbahaya karena memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi. Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, batuk, sesak napas, hingga penumpukan cairan di paru-paru.

Kemenkes menyebut tingkat kematian HPS dapat mencapai sekitar 60 persen pada beberapa kasus tertentu. Masa inkubasinya juga lebih panjang, yakni antara satu hingga delapan minggu tergantung jenis virus penyebabnya.

Menurut penjelasan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus umumnya ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat lain. Penularan dapat terjadi saat manusia menghirup partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Kemenkes menegaskan bahwa tipe HPS hingga kini belum dilaporkan ditemukan di Indonesia. Kasus yang pernah terdeteksi di Indonesia lebih mengarah pada tipe HFRS dengan strain Seoul virus yang dibawa tikus got atau Rattus norvegicus.

Masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya. Pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan hantavirus.

Gejala awal hantavirus juga kerap menyerupai flu biasa sehingga banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan. Karena itu, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot, sesak napas, atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.

Belakangan, hantavirus ramai diperbincangkan di media sosial menyusul laporan kasus di kapal pesiar internasional. Namun pemerintah memastikan pemantauan dan skrining terus diperkuat untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *