Inframenews, Parigi Moutong
Sabtu, 29 Agustus 2026
Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah (Salimah) Parigi Moutong mengajak keluarga menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan hati dan pedoman menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan dalam Kajian Keluarga Qur’ani bertema “Bersama Al-Qur’an, Menguatkan Hati dan Keluarga” di Ruko Pesantren Lisaanul Arab Parigi, Kamis (27/8/2026).
Kajian menghadirkan Ustadzah Suriyati, S.Th.I., M.Psi., owner Rumah Spirit dan konselor keluarga, sebagai pemateri.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Wanita Islam Alkhairaat Parigi Moutong dan Ketua Rumah Keluarga Indonesia Parigi Moutong.
Dalam materinya, Suriyati mengangkat tema “Menjadikan Al-Qur’an sebagai Penguat Hati” dengan mengajak peserta menemukan kembali arah hidayah melalui hati yang dekat dengan Al-Qur’an.
Ia menjelaskan hati merupakan pusat kendali yang berperan penting dalam melahirkan keimanan, perubahan diri dan kemampuan menerima petunjuk Allah SWT.
Peserta juga diajak melakukan “diagnosa hati” dengan memperhatikan respons diri ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut Suriyati, hati yang sehat mampu menerima kebenaran, merenungkan kandungan Al-Qur’an melalui tadabbur dan terdorong melakukan perbaikan diri.
Sebaliknya, hati yang sakit dapat ditandai dengan sikap menolak kebenaran, mencari pembenaran dan berpaling dari petunjuk.
Karena itu, interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui aktivitas membaca, tetapi perlu dilanjutkan dengan memahami, mentadabburi dan mengamalkan pesannya.
Nilai-nilai Al-Qur’an dinilai dapat menjadi landasan keluarga dalam menghadapi persoalan, mengelola emosi, membangun komunikasi dan mengambil keputusan.
Ketua PD Salimah Parigi Moutong, Suciati S. Makka, mengatakan Kajian Keluarga Qur’ani menjadi salah satu upaya Salimah menguatkan perempuan dan keluarga melalui nilai-nilai Al-Qur’an.
“Keluarga adalah tempat pertama bagi lahirnya generasi,” ujar Suciati.
Ia mengatakan keluarga yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan memiliki sumber kekuatan, ketenangan dan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menurutnya, membangun keluarga Qur’ani harus dimulai dari pembenahan hati setiap anggota keluarga.
Suciati berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum menghadirkan Al-Qur’an dalam hati dan kehidupan sehari-hari.
Para peserta mengikuti kajian dengan antusias dan melanjutkan kegiatan melalui sesi tanya jawab mengenai kehidupan keluarga serta penerapan nilai-nilai Al-Qur’an.
Salah seorang peserta menilai kajian tersebut bermanfaat karena mengingatkan pentingnya menjaga hati agar selalu dekat dengan Al-Qur’an.
Melalui kegiatan ini, Salimah Parigi Moutong berharap semakin banyak keluarga menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hidayah, penguat hati dan pedoman membangun keluarga yang penuh ketenangan serta keberkahan.(*)













