Scroll untuk baca artikel
Banner Inframenews - Perkaya wawasan Anda bersama Inframenews
Example floating
Example floating
BeritaHeadlineKomunitasParigi MoutongSosial Budaya

Perkuat Harmoni dan Toleransi

39
×

Perkuat Harmoni dan Toleransi

Sebarkan artikel ini
Sejumlah tokoh gereja menerima bingkisan secara simbolis dalam rangkaian syukuran Natal dan Tahun Baru di Gereja GPID Bukit Moria, Parigi Barat. Momen ini berlangsung hangat sebagai wujud apresiasi dan kebersamaan antara jemaat dan pihak penyelenggara. (Humas Polres)

Inframenews.id, Parigi Barat – Udara Jumat malam itu terasa hangat ketika jemaat Gereja GPID Bukit Moria di Desa Lobu Mandiri, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai berdatangan.

Hari sudah mulai gelap, namun halaman gereja justru semakin berwarna oleh obrolan warga, lampu yang memantul di rimbunan pepohonan, dan suara salam yang berbalas.

Di tengah suasana itu, kehadiran aparat berseragam terlihat menyatu begitu saja, tanpa jarak, tanpa sekat seolah semua sedang pulang ke rumah yang sama.

Malam itu bukan sekadar perayaan keagamaan. Bukan sekadar Syukuran Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Di dalam gereja sederhana itu, tersimpan upaya membangun jembatan-jembatan yang menghubungkan perbedaan, mempertemukan pihak-pihak yang jarang bertemu dalam suasana nonformal, dan menciptakan ruang untuk saling mengenal lebih dekat.

Sebelum acara dimulai, Wakapolres Parigi Moutong, Kompol Henry Burhanuddin, terlihat berbincang dengan beberapa jemaat.

Senyum dan tawa lepas mengisi percakapan. Tak ada bahasa komando, tak ada instruksi.

Yang terdengar hanya percakapan yang mengalir seperti warga yang bertemu tetangga lama.

“Sudah siap Natal kemarin? Anak-anak libur sekolah?” tanya seseorang sambil tertawa kecil.

“Siap, tinggal tahun barunya saja ini,” jawab yang lain.

Momen-momen kecil seperti itu, seringkali sepele, namun menjadi fondasi penting dari sebuah kehidupan sosial yang sehat, menyadarkan bahwa masyarakat dan penegak hukum bukan dua dunia yang terpisah, melainkan bagian dari satu ekosistem sosial yang sama.

Ketika acara dimulai, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Jemaat berdiri, menyanyikan pujian, lalu duduk kembali untuk mendengarkan sambutan.

Namun sekalipun acara bersifat formal, nuansa yang hadir bukan tekanan, melainkan penghargaan.

Tidak ada suara yang meninggi, tidak ada protokol yang kaku. Yang ada hanya pesan-pesan yang disampaikan dengan empati.

Dalam sambutannya, KOMPOL Henry menekankan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru seharusnya menjadi pengingat tentang pentingnya saling memahami.

“Syukuran Natal dan Tahun Baru ini mengingatkan kita tentang kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati di tengah perbedaan. Polri akan terus hadir dan bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat demi menjaga keamanan dan kedamaian,” ucapnya dengan suara penuh ketenangan.

Kalimat itu terasa sederhana, namun bagi sebagian jemaat yang tinggal di wilayah multikultur seperti Parigi Moutong, pesan itu memiliki makna khusus.

Di daerah yang dihuni oleh masyarakat dengan latar agama, adat, dan budaya yang beragam, kerja sama adalah kunci.

Terlebih ketika dinamika sosial, ekonomi, dan politik kadang menciptakan ruang-ruang ketegangan.

Selepas sambutan, acara berlanjut dengan doa bersama. Tidak ada banyak kamera, tidak ada panggung besar, tidak ada publikasi berlebihan.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah, nilai-nilai toleransi menemukan tanahnya.

Jemaat mengatupkan tangan, aparat menundukkan kepala, dan semua larut dalam keheningan singkat yang penuh harapan.

Usai doa, disediakan waktu untuk ramah tamah. Ini bagian yang paling menarik dari sudut pandang sosial.

Di meja-meja panjang yang disusun sederhana, jemaat dan aparat duduk berdampingan.

Ada yang saling bercerita tentang keluarga, ada yang membahas tugas pengamanan akhir tahun, ada pula yang sekadar bertukar kabar soal hasil panen hingga liburan anak sekolah.

Di antara gelas teh hangat dan kue-kue khas perayaan, tumbuhlah hal yang sering terlupakan dalam diskusi besar tentang toleransi, rasa ingin tahu satu sama lain.

Karena toleransi tidak tumbuh hanya lewat regulasi, tetapi melalui pertemuan yang membuka ruang untuk memahami bahwa perbedaan tidak berbahaya.

Bagi Polres Parigi Moutong sendiri, kegiatan ini bukan hanya soal menghadiri undangan keagamaan.

Lebih dari itu, acara ini adalah bagian dari strategi sosial, mencegah konflik dengan membangun kedekatan.

Di tengah masyarakat yang majemuk, kedamaian jarang bertahan hanya lewat patroli dan pengamanan—ia bertahan melalui komunikasi, kepercayaan, dan rasa saling memiliki.

Di sisi lain, bagi jemaat, kehadiran negara di ruang peribadatan bukanlah bentuk intervensi, melainkan jaminan.

Jaminan bahwa kebebasan menjalankan ibadah dilindungi, bahwa keamanan bukan monopoli aparat, dan bahwa kerukunan bisa dirawat bersama.

Ketika acara mendekati akhir, Ketua Jemaat terlihat mendekati Wakapolres sambil menjabat tangan.

“Terima kasih sudah hadir dan merayakan bersama kami,” ucapnya.

Wakapolres menjawab, “Terima kasih kembali. Kami hanya menjalankan tugas, tapi juga belajar banyak dari masyarakat.”

Keduanya tertawa pelan, seolah menyadari bahwa tanpa ucapan panjang pun, pesan sudah sampai: kehadiran itu penting.

Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama. Namun bahkan setelah kamera berhenti berbunyi, obrolan masih belum selesai.

Beberapa jemaat masih menyempatkan diri berbincang sebelum pulang, sementara aparat membantu membereskan kursi.

Di luar gedung gereja, malam makin larut. Lampu gereja mulai diredupkan, namun cahaya lain justru terasa lebih kuat—cahaya yang muncul dari rasa aman, rasa dihargai, dan rasa diterima. Cahaya yang menjadi fondasi dari harmoni sosial.

Menutup tahun 2025 dan memasuki 2026, harapan bagi masyarakat Parigi Moutong bukanlah sekadar pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur.

Harapan terbesar mereka seringkali lebih sederhana: bahwa kerukunan tetap terjaga, bahwa rumah ibadah tetap damai, dan bahwa anak-anak bisa tumbuh tanpa takut terhadap perbedaan.

Karena di akhirnya, toleransi bukan tentang siapa yang paling dominan atau siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana kita tetap bisa duduk dalam satu meja, saling mendengarkan, dan saling menghargai meski tidak selalu sepakat.

Dan malam itu, di sebuah gereja di Lobu Mandiri, toleransi bukan sedang dibahas—ia sedang dipraktikkan.

Laporan : Syafiq Mubarak | Editor : Ahmad Tamsil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *