Scroll untuk baca artikel
Banner Inframenews - Perkaya wawasan Anda bersama Inframenews
Example floating
Example floating
HeadlineLingkunganParigi MoutongPeristiwa

BPBD Parigi Moutong Catat Lonjakan Karhutla dan Kekeringan Selama Januari 2026

27
×

BPBD Parigi Moutong Catat Lonjakan Karhutla dan Kekeringan Selama Januari 2026

Sebarkan artikel ini
Petugas Pemadam Kebakaran Parigi Moutong bersama BPBD melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat, Rabu (28/1/2026). (Istimewa)

Inframenews.id, Parigi Moutong – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong mencatat peningkatan signifikan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan sepanjang Januari 2026.

Sepanjang bulan berjalan, BPBD merekap sedikitnya sepuluh peristiwa karhutla yang terjadi di sejumlah kecamatan, di antaranya Parigi Barat, Parigi Tengah, Parigi Utara, Tinombo, hingga wilayah Sidoan. Selain itu, tercatat pula dua kejadian kebakaran bangunan serta satu laporan kekeringan lahan pertanian yang berdampak langsung terhadap petani.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dan dibahas dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang digelar di Ruang Crisis Center Pusdalops BPBD Parigi Moutong, Selasa (kemarin). Rapat melibatkan unsur TNI-Polri, BPBD, Satpol PP dan Pemadam Kebakaran, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, camat, lurah, serta dilaksanakan secara daring bersama pihak BMKG.

Dalam rapat tersebut terungkap, secara kalender musim Parigi Moutong seharusnya telah memasuki periode hujan. Namun kenyataannya, sebagian wilayah masih mengalami kondisi kering.

BMKG menjelaskan, keterlambatan hujan dipengaruhi oleh anomali iklim serta sirkulasi udara lokal, sehingga curah hujan belum turun secara merata. Bahkan hingga pertengahan Januari 2026, beberapa wilayah Parigi bagian atas hingga utara masih tergolong berada dalam fase kemarau.

BMKG memprakirakan, awal musim hujan di sejumlah wilayah Parigi Moutong baru akan berlangsung pada Maret 2026, dengan puncak hujan diprediksi terjadi pada April. Sementara itu, periode relatif kering diproyeksikan kembali terjadi mulai Mei hingga September 2026.

Kondisi cuaca kering tersebut membuat risiko karhutla masih sangat tinggi, terutama di wilayah perbukitan dan pegunungan yang sulit dijangkau armada pemadam. BPBD mengakui, medan berat menjadi kendala utama dalam proses penanganan kebakaran.

Banyak titik api berada jauh di kawasan pegunungan, minim sumber air, serta tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam. Saat ini, BPBD Parigi Moutong masih memiliki keterbatasan peralatan untuk pemadaman di wilayah ketinggian, dengan mengandalkan selang alkon, tangki air tarik, serta peralatan manual seperti pacuskop untuk memutus jalur api.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD berencana menempatkan peralatan siaga di Kecamatan Tinombo, sekaligus membangun konektivitas posko kebakaran di wilayah Parigi, Moutong, Tolai, dan Tinombo.

Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran Parigi Moutong menyiagakan 95 personel selama 24 jam, didukung empat unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit motor pemadam roda tiga untuk menjangkau akses sempit. Namun untuk kebakaran di kawasan pegunungan, upaya pemadaman darat umumnya hanya difokuskan untuk mencegah api meluas ke permukiman warga.

BPBD juga membuka opsi untuk meminta dukungan BNPB, termasuk pemadaman udara menggunakan helikopter, jika kebakaran terjadi secara masif dan tidak dapat dikendalikan dari darat. Meski demikian, opsi ini menjadi langkah terakhir karena membutuhkan biaya besar serta bahan pemadam khusus.

Selain karhutla, dampak kemarau juga dirasakan sektor pertanian. Di Kecamatan Mepanga dan Ongka Malino, sekitar tiga ribu hektare sawah tadah hujan dilaporkan gagal tanam akibat ketiadaan pasokan air. Lahan jenis ini sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa sistem irigasi permanen, sehingga sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.

BPBD bersama dinas terkait telah melakukan kaji cepat dan menyiapkan langkah penanganan darurat, termasuk pemenuhan kebutuhan pompa air, selang, serta opsi pembuatan sumur dangkal.

Di tengah kemarau panjang, inisiatif warga juga muncul di sejumlah wilayah. Di Desa Sausu Trans, Kecamatan Sausu, warga bersama Bhabinkamtibmas setempat melakukan penyiraman jalan desa secara gotong royong untuk mengurangi debu akibat jalan tanah yang mengering.

Sebagai langkah lanjutan, BPBD Parigi Moutong telah menerbitkan surat edaran bupati dan berencana mengajukan penetapan status siaga darurat karhutla dan kekeringan. Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api.

Untuk pelaporan darurat, masyarakat dapat menghubungi Call Center 117, layanan WhatsApp BPBD, atau melalui aplikasi SIBIMO.

BPBD menegaskan, kewaspadaan dan sinergi seluruh pihak menjadi kunci utama untuk menekan risiko bencana di tengah dinamika cuaca dan iklim lokal yang masih belum stabil.

Laporan : Mul | Editor : Ahmad Tamsil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *