Scroll untuk baca artikel
Banner Inframenews - Perkaya wawasan Anda bersama Inframenews
Example floating
Example floating
BeritaHeadlineLingkunganParigi MoutongPeristiwa

3.000 Hektare Sawah Tadah Hujan di Parigi Moutong Gagal Tanam Akibat Kekeringan

30
×

3.000 Hektare Sawah Tadah Hujan di Parigi Moutong Gagal Tanam Akibat Kekeringan

Sebarkan artikel ini
Kekeringan melanda wilayah persawahan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Minimnya curah hujan menyebabkan ribuan hektare sawah tadah hujan di Kecamatan Mepanga dan Ongka Malino mengering dan gagal tanam, Rabu (28/1/2026). (Istimewa)

Inframenews.id, Parigi Moutong – Hamparan sawah di Kabupaten Parigi Moutong kini berubah menjadi lahan kering dan berdebu.

Tanah mengeras, retak, dan sebagian hanya menyisakan jalur-jalur sempit bekas aliran air yang telah lama mengering.

Kondisi ini terjadi di dua kecamatan, Mepanga dan Ongka Malino, akibat kekeringan yang melanda sejak beberapa pekan terakhir, Rabu (28/1/2026).

Dampaknya, sekitar 3.000 hektare sawah tadah hujan dilaporkan gagal tanam. Lahan pertanian tersebut tidak dapat diolah karena sama sekali tidak mendapatkan pasokan air, sementara hujan belum kunjung turun.

Sawah tadah hujan sendiri merupakan lahan pertanian yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan, tanpa didukung jaringan irigasi permanen.

Ketika hujan berhenti, sawah pun ikut mati sebelum sempat ditanami.

Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Mohammad Rivai, mengatakan berkurangnya intensitas hujan menjadi penyebab utama mengeringnya lahan persawahan di sejumlah wilayah.

“Yang terdampak adalah sawah tadah hujan, yaitu sawah yang tidak memiliki sistem irigasi permanen dan hanya mengandalkan hujan,” ujar Rivai.

Di Kecamatan Mepanga, kekeringan meluas di Desa Ogotion, Kotaraya Timur, Kotaraya Tenggara, dan Kotaraya Selatan.

Sementara di Kecamatan Ongka Malino, lahan pertanian terdampak berada di Desa Lambanau.

Kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar sawah tampak gersang, tanpa genangan air, bahkan sulit dibajak karena tanah telah mengeras.

Beberapa petani terpaksa menunda masa tanam karena dinilai berisiko mengalami gagal panen sejak awal.

Meski belum ada laporan resmi terkait besaran kerugian, Rivai menegaskan bahwa dampak paling terasa dialami petani sawah tadah hujan yang menggantungkan penghasilan dari musim tanam.

“Sekitar 3.000 hektare sawah mengalami gagal tanam. Ini tentu berdampak langsung pada ekonomi petani dan juga ketahanan pangan,” jelasnya.

BPBD Parigi Moutong telah melakukan kaji cepat di lokasi terdampak serta berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa untuk menentukan langkah penanganan.

Kebutuhan mendesak yang diidentifikasi di lapangan meliputi penyediaan air irigasi darurat, pompa air, selang, serta opsi pembuatan sumur dangkal atau sumur bor sementara di area persawahan yang dinilai paling kritis.

“Kondisi kekeringan masih berlangsung dan terus kami pantau. Koordinasi lintas sektor dilakukan agar penanganan dapat segera dilakukan,” pungkas Rivai.

BPBD juga mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak lanjutan cuaca kering yang berpotensi memperparah kondisi pertanian di Parigi Moutong.

Laporan : Mul | Editor : Ahmad Tamsil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *