Inframenews.id, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui kapal dari berbagai negara, kecuali dari Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia yang juga berdampak pada jalur pelayaran internasional.
Dalam wawancara terbaru, Araghchi mengatakan bahwa Iran tidak menutup total Selat Hormuz, tetapi membatasi akses kapal yang berasal dari negara yang dianggap menyokong agresi terhadap Teheran, terutama AS dan Israel.
Dengan begitu, kapal dagang dan kapal dari negara lain masih dapat melewati jalur sempit strategis ini meski situasi keamanan masih menjadi perhatian.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu rute pelayaran paling penting di dunia untuk transportasi energi.
Sekitar 20 persen dari total minyak dunia diangkut melalui perairan ini.
Kondisi politik di kawasan telah memicu kekhawatiran tentang kemungkinan gangguan aliran energi global, terutama setelah serangan militer yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah serta meningkatnya biaya asuransi kapal di sekitar rute tersebut.
Pernyataan Iran datang di tengah desakan beberapa negara dan tokoh internasional agar jalur pelayaran tersebut tetap aman dan bebas hambatan.
Beberapa negara besar ikut bereaksi terhadap pernyataan tersebut, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar serangan di kawasan dihentikan dan stabilitas serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz dipulihkan demi kepentingan bersama.
Meski begitu, respons global terhadap situasi di perairan strategis itu beragam, dengan beberapa negara menilai kebijakan pembatasan ini dapat berdampak pada keamanan maritim dan ketahanan energi.
Kondisi ini juga mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Iran dengan sekutu AS serta Israel, yang beberapa kali berujung pada serangan dan kontra‑serangan di wilayah Teluk Persia dan sekitarnya.












