Inframenews, Sigi
Senin, 24 Agustus 2026
Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Tengah Dr. Ir. Bartholomeus Tandigala menilai penanaman bawang putih serentak menjadi langkah konkret memperkuat ketahanan pangan daerah.
Menurut Bartholomeus, keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari kegiatan penanaman, tetapi juga keberlanjutan produksi dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Petani harus mendapatkan dukungan secara menyeluruh, mulai dari benih berkualitas, teknologi budidaya, pendampingan, sarana produksi, hingga akses pasar,” ujar Bartholomeus.
Ia menilai Kabupaten Sigi memiliki potensi besar dalam pengembangan hortikultura, termasuk komoditas bawang putih.
Potensi tersebut, kata dia, perlu dikelola melalui pendekatan pertanian modern, inovatif, produktif, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Kita ingin pertanian Sulawesi Tengah semakin maju dan memiliki daya saing. Ukuran keberhasilannya bukan hanya peningkatan produksi,” katanya.
Menurutnya, hasil pertanian juga harus mampu memberikan nilai tambah serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Bartholomeus menegaskan pencapaian swasembada pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.
Pemerintah, petani, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, serta seluruh pemangku kepentingan perlu membangun sinergi agar program pertanian berjalan konsisten.
Ia juga melihat pengembangan bawang putih berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
Peningkatan produksi yang disertai penguatan rantai pasok, pengolahan, dan pemasaran dinilai dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat.
“Swasembada pangan adalah agenda bersama. Dari Desa Oloboju, kita ingin membangun semangat bahwa Sulawesi Tengah memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap kemandirian pangan Indonesia,” tegasnya.
Sebagai Ketua Komisi I DPRD Sulteng, Bartholomeus menekankan pentingnya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam pengembangan pertanian daerah.
Ia berharap penanaman bawang putih serentak menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan memperluas pengembangan komoditas tersebut di Sulawesi Tengah.
“Kita berharap gerakan ini tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi menjadi awal pengembangan bawang putih yang modern, produktif, berkelanjutan,” pungkasnya.(*)













