Scroll untuk baca artikel
Iklan Mobile InframeNews
Iklan InframeNews
Iklan InframeNews
DaerahKesehatanParigi Moutong

Desa Baliara Bentuk Desa Siaga TBC, Ditemukan 57 Kasus

21
×

Desa Baliara Bentuk Desa Siaga TBC, Ditemukan 57 Kasus

Sebarkan artikel ini
Pembentukan Desa Siaga TBC di Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat, Rabu (9/9/2026), untuk memperkuat pencegahan dan deteksi dini TBC.

Inframenews, Parigi Moutong
Kamis, 10 September 2026

Pemerintah Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat, membentuk Desa Siaga Tuberkulosis (TBC) untuk memperkuat pencegahan dan penemuan kasus secara dini.

Pembentukan tersebut menjadi bagian dari Gerakan Bersama Mengakhiri Tuberkulosis (GEBER TBC) melalui inovasi MARI LIBAS TBC.

Kegiatan berlangsung di Kantor Desa Baliara, Rabu (9/9/2026), dengan melibatkan pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat.

Kepala Puskesmas Lompe Ntodea, Idham, SKM., MKM., mengatakan Desa Siaga TBC merupakan upaya menerjemahkan kebijakan kesehatan hingga tingkat masyarakat.

Menurutnya, penanggulangan TBC menjadi prioritas karena penyakit tersebut masih menjadi salah satu masalah penyakit menular serius di Indonesia.

Penanggulangan TBC ini juga menunjang Asta Cita Bapak Presiden, khususnya Asta Cita keempat, yaitu pembangunan sumber daya manusia dan kesehatan,” jelasnya.

Idham menyebutkan, wilayah kerja Puskesmas Lompe Ntodea yang mencakup enam desa tercatat memiliki 57 kasus TBC.

Kasus tersebut tersebar di Desa Parigi Mpu’u sebanyak 12 kasus, Kayuboko 19 kasus, Jono Kalora 8 kasus, Baliara 9 kasus, Lobu Mandiri 6 kasus, dan Air Panas 3 kasus.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kontak serumah dan masyarakat di sekitar penderita TBC.

Programnya nanti akan kita lakukan pemeriksaan secara massal di enam desa,” ujar Idham.

Ia berharap kegiatan screening dapat membantu masyarakat menemukan kasus TBC secara lebih dini, khususnya di wilayah Parigi Barat dan Desa Baliara.

Idham menjelaskan, inovasi MARI LIBAS TBC dirancang untuk memperkuat penanggulangan TBC berbasis masyarakat.

Melalui inovasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi sasaran program, tetapi juga aktif menemukan kasus dan mencegah penularan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma atau mengucilkan warga yang menderita TBC.

Jangan memberikan stigma kepada masyarakat yang menderita TBC. TBC mudah disembuhkan apabila cepat ditemukan dan ditangani,” tegasnya.

Idham mengajak masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih.

Sementara itu, Kepala Desa Baliara, Fadli Badja, menyambut baik pembentukan Desa Siaga TBC di wilayahnya.

Ia menilai program tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak ragu menjalani pemeriksaan kesehatan.

Kalau kita sudah mengalami batuk lebih dari dua minggu, jangan malu untuk memeriksakan diri,” ujarnya.

Fadli berharap Desa Siaga TBC dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi penularan TBC.

Pembentukan Desa Siaga TBC juga memperkuat kolaborasi pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat untuk mendukung eliminasi TBC tahun 2030.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *