Scroll untuk baca artikel
Iklan Mobile InframeNews
Iklan InframeNews
Iklan InframeNews
HeadlinePeristiwaSulawesi Tengah

BMKG: 25 Zona Musim Sulteng Masih Dilanda Kemarau

88
×

BMKG: 25 Zona Musim Sulteng Masih Dilanda Kemarau

Sebarkan artikel ini
Ilutras - Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada 2019 silam. (Faaiz Sengka/Inframenews)

Inframenews, Palu
Selasa, 1 September 2026

BMKG memperingatkan 25 dari 29 zona musim di Sulawesi Tengah masih mengalami musim kemarau hingga dasarian II Agustus 2026.

Peringatan tersebut disampaikan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV melalui informasi peringatan dini cuaca dan iklim dasarian I September 2026.

Dalam laporan tertanggal 31 Agustus 2026, BMKG menyebut kondisi El Nino saat ini berada pada intensitas sangat kuat dengan indeks SST Nino3.4 mencapai +2,22.

Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole atau IOD berada pada fase netral dan diprediksi memasuki fase positif setidaknya hingga Oktober 2026.

Dari 29 zona musim di Sulawesi Tengah, sebanyak 25 zona masih mengalami musim kemarau, satu zona mengalami musim hujan sepanjang tahun, dan tiga zona mengalami kemarau sepanjang tahun.

BMKG tidak memprakirakan adanya peringatan dini curah hujan tinggi kategori waspada, siaga, maupun awas di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah pada periode 1–10 September 2026.

Namun, ancaman kekeringan meteorologis justru masih perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.

Kabupaten Parigi Moutong termasuk daerah yang masuk status Siaga kekeringan meteorologis, khususnya Kecamatan Bolano Lambunu, Palasa, dan Moutong.

Selain Parigi Moutong, status siaga juga tercatat di sejumlah wilayah Banggai, Poso, Tojo Una-Una, Tolitoli, Banggai Kepulauan, Buol, Donggala, Kota Palu, Morowali, Morowali Utara, dan Sigi.

BMKG juga memprakirakan hujan sedang hingga lebat secara terbatas pada 1–10 September 2026.

Potensi tersebut diprakirakan terjadi di Pinembani, Kabupaten Donggala pada 1 September, Rio Pakava pada 2 September, serta Nokilalaki dan Palolo, Kabupaten Sigi pada 4 September.

BMKG merekomendasikan pemerintah daerah menggunakan informasi tersebut sebagai bahan kewaspadaan dan pertimbangan dalam melakukan langkah mitigasi terhadap dampak kondisi cuaca dan iklim.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi daerah yang menghadapi risiko kekeringan, terutama dalam menjaga ketersediaan air, sektor pertanian, dan potensi kebakaran hutan serta lahan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *