Scroll untuk baca artikel
Banner Inframenews - Perkaya wawasan Anda bersama Inframenews
Example floating
Example floating
HeadlineLingkunganParigi MoutongPeristiwaSulawesi Tengah

BMKG Ungkap Parigi Moutong Masih Dilanda Kemarau di Awal 2026, Karhutla Tetap Diwaspadai

135
×

BMKG Ungkap Parigi Moutong Masih Dilanda Kemarau di Awal 2026, Karhutla Tetap Diwaspadai

Sebarkan artikel ini
Kemarau masih melanda Parigi Moutong di awal 2026. BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan tetap tinggi, meski total curah hujan tahun ini diperkirakan normal. (Istimewa)

Inframenews.id, Parigi Moutong – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebagian wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masih mengalami musim kemarau pada awal tahun 2026 akibat anomali iklim lokal. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu disampaikan petugas Stasiun Pengamatan Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri BMKG, Solih Alfiandy, saat rapat penanganan Karhutla bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Selasa (27/1/2026).

Dalam pemaparannya secara daring, Solih menjelaskan bahwa hingga dasarian kedua Januari 2026, sejumlah wilayah Parigi Moutong masih masuk kategori daerah kering. Kondisi tersebut terlihat dari peta curah hujan yang menunjukkan rendahnya intensitas hujan di Parigi bagian atas hingga wilayah utara, termasuk sekitar Kecamatan Sausu.

“Berdasarkan update musim dan data pengamatan, wilayah ini masih berada pada fase kemarau. Padahal secara normal seharusnya sudah mulai memasuki musim hujan,” jelasnya.

Menurut Solih, kondisi tersebut merupakan bentuk anomali iklim lokal. Prakiraan sebelumnya memperkirakan hujan mulai terjadi pada Januari 2026, namun hingga pertengahan bulan, hujan signifikan belum merata di sebagian besar wilayah Parigi Moutong.

Ia juga memaparkan bahwa pada 2024 hingga 2025, pola curah hujan di Sulawesi Tengah relatif serupa, namun terdapat perbedaan mencolok antarwilayah. Di Parigi Moutong, khususnya Kecamatan Siniu, Parigi Utara, Parigi Tengah, Parigi, Parigi Barat, dan Parigi Selatan, curah hujan tercatat di bawah 1.500 milimeter per tahun.

Kondisi tersebut menyebabkan wilayah-wilayah tersebut cenderung didominasi satu musim, yakni musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.

Sementara itu, untuk tahun 2026, BMKG memprakirakan pola iklim Parigi Moutong cenderung normal. Total curah hujan tahunan diperkirakan meningkat hingga sekitar 2.000 milimeter per tahun, lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya.

Meski demikian, Solih menegaskan distribusi hujan diperkirakan tidak merata karena kuatnya pengaruh sirkulasi udara lokal di Sulawesi Tengah.

“Secara umum 2026 tidak kering ekstrem dan tidak basah ekstrem. Namun karena sangat dipengaruhi sirkulasi lokal, hujan dan kekeringan bisa terjadi sangat setempat, bahkan antar desa dalam waktu yang sama,” ujarnya.

BMKG memprediksi awal musim hujan di sebagian wilayah Parigi Moutong baru terjadi pada Maret 2026, dengan puncak hujan diperkirakan berlangsung pada April. Sementara periode relatif kering diproyeksikan terjadi mulai Mei hingga September, dengan puncak kemarau pada Agustus.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko karhutla, terutama di wilayah perbukitan dan pegunungan yang sulit dijangkau peralatan pemadam darat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPBD Parigi Moutong, Mohammad Rivai, mengatakan pihaknya menjadikan proyeksi iklim BMKG sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan daerah.

“Kami melihat potensi kebakaran masih ada, terutama saat memasuki kemarau pertengahan tahun. Karena itu kesiapsiagaan harus dilakukan lebih awal,” ujar Rivai.

BPBD Parigi Moutong telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, mulai dari kesiapan peralatan, penempatan personel di wilayah rawan, hingga penguatan koordinasi dengan BMKG, TNI-Polri, dan pemerintah kecamatan.

Rivai juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan titik api di lingkungan sekitar.

“Upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama, apalagi dengan kondisi iklim yang dinamis dan sulit diprediksi secara lokal,” tegasnya.

Laporan : Mul | Editor : Ahmad Tamsil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *