Scroll untuk baca artikel
Iklan Mobile InframeNews
Iklan InframeNews
Iklan InframeNews
HeadlineNasionalOlahraga

Karier atau Popularitas? Pemain Naturalisasi Ramai ke Liga Indonesia

67
×

Karier atau Popularitas? Pemain Naturalisasi Ramai ke Liga Indonesia

Sebarkan artikel ini
Sandy Walsh resmi bergabung ke Persib Bandung pada musim 2026-2027. © PERSIB.CO.ID

InframeNews, Jakarta
Jumat, 3 Juli 2026

Fenomena bergabungnya sejumlah pemain naturalisasi Timnas Indonesia ke klub-klub Super League menjadi perbincangan di kalangan pencinta sepak bola nasional.

Kepindahan mereka memunculkan pertanyaan, apakah keputusan tersebut diambil demi perkembangan karier atau sekadar mengejar popularitas.

Melansir dari Bolasport.com, hingga menjelang bergulirnya Super League 2026/2027, tercatat sudah 11 pemain naturalisasi memilih melanjutkan karier di kompetisi domestik.

Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya ketika mayoritas pemain diaspora masih berkarier di Eropa maupun liga-liga kompetitif Asia.

Persija Jakarta menjadi klub dengan jumlah pemain naturalisasi terbanyak. Macan Kemayoran diperkuat Jordi Amat, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra, dan Cyrus Margono.

Jordi Amat lebih dulu bergabung setelah meninggalkan Johor Darul Takzim, sedangkan Shayne Pattynama datang usai berpisah dengan Buriram United.

Mauro Zijlstra direkrut dari Volendam, sementara Cyrus Margono sebelumnya membela KF Dukagjini di Albania.

Persib Bandung juga aktif mendatangkan pemain naturalisasi. Maung Bandung kini diperkuat Thom Haye, Eliano Reijnders, Sandy Walsh, dan Dion Marx.

Thom Haye bergabung dari Almere City, Eliano Reijnders dari PEC Zwolle, Dion Marx dari TOP Oss, sedangkan Sandy Walsh didatangkan dari Buriram United untuk menghadapi musim 2026/2027.

Sementara itu, Dewa United mengamankan jasa Rafael Struick dan Ivar Jenner. Struick direkrut dari Brisbane Roar, sedangkan Jenner bergabung dari Jong FC Utrecht.

Bali United turut meramaikan bursa transfer dengan merekrut penyerang muda Jens Raven dari klub Belanda, SV Nootdorp.

Fenomena tersebut memunculkan pro dan kontra. Sebagian pengamat menilai para pemain naturalisasi sebaiknya tetap berkarier di luar negeri agar terus bersaing di kompetisi yang memiliki level lebih tinggi.

Bermain di liga yang lebih kompetitif diyakini dapat menjaga kualitas permainan sekaligus meningkatkan performa saat membela Timnas Indonesia.

Namun, keputusan pulang ke Indonesia juga dinilai memiliki alasan yang rasional.

Bagi pemain senior seperti Jordi Amat, Thom Haye, Sandy Walsh, dan Shayne Pattynama, bermain di Super League dapat menjadi pilihan logis untuk mendapatkan menit bermain lebih banyak sekaligus beradaptasi lebih dekat dengan atmosfer sepak bola Indonesia.

Di sisi lain, keputusan pemain yang masih berusia muda seperti Mauro Zijlstra, Rafael Struick, Ivar Jenner, dan Jens Raven diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik.

Mereka dinilai masih berada dalam fase penting untuk mengembangkan kemampuan di kompetisi yang lebih kompetitif.

Karena itu, pilihan para pemain muda tersebut akan terus dinilai berdasarkan perkembangan performa mereka di lapangan, bukan semata-mata dari besaran kontrak maupun popularitas yang diperoleh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *