Oleh: Suciati
Ketua PD Salimah Parigi Moutong
Setiap kali pemerintah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan, optimisme publik kembali tumbuh. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus bergerak positif sering dijadikan indikator bahwa pembangunan berjalan di jalur yang benar. Akan tetapi, di balik angka-angka yang menggembirakan tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah pertumbuhan itu benar-benar telah dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat?
Bagi sebagian keluarga, terutama keluarga kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah, pertumbuhan ekonomi sering kali belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan pokok yang terus berfluktuasi, biaya pendidikan yang meningkat, layanan kesehatan yang semakin mahal, hingga kebutuhan transportasi yang terus bertambah menjadi realitas yang lebih nyata dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi yang disampaikan dalam berbagai laporan resmi.
Sebagai seorang ibu yang juga bekerja, penulis merasakan secara langsung bagaimana pembangunan ekonomi sesungguhnya diukur bukan hanya melalui statistik makro, tetapi melalui kemampuan sebuah keluarga memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Keberhasilan pembangunan seharusnya tercermin ketika orang tua tidak lagi dihantui kecemasan mengenai biaya pendidikan anak, ketika kebutuhan pangan dapat dipenuhi tanpa harus mengurangi kualitas gizi keluarga, dan ketika masyarakat memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak.
Perspektif inilah yang sering kali luput dari pembahasan mengenai pembangunan. Pertumbuhan ekonomi memang penting karena menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan investasi. Namun pertumbuhan yang tidak diikuti pemerataan hanya akan memperlebar kesenjangan sosial. Di berbagai daerah, pembangunan gedung-gedung megah, pusat perdagangan modern, serta kawasan industri berkembang pesat, sementara di sisi lain masih banyak pelaku usaha mikro yang kesulitan memperoleh modal, petani yang menghadapi ketidakpastian harga hasil panen, dan keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam teori pembangunan modern, kondisi tersebut dikenal sebagai pertumbuhan yang tidak inklusif, yaitu ketika manfaat pertumbuhan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, sedangkan sebagian masyarakat belum memperoleh kesempatan yang sama untuk meningkatkan kesejahteraannya. Fenomena ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia.
Ekonomi Islam menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap pembangunan. Islam tidak menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan falah, yaitu kesejahteraan yang menyeluruh, mencakup dimensi material, spiritual, sosial, dan moral. Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan dalam perspektif Islam tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan nasional, tetapi juga dari terciptanya keadilan distribusi, terjaminnya kebutuhan dasar masyarakat, serta meningkatnya kualitas hidup secara berkelanjutan.
Prinsip tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Allah SWT mengingatkan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja, melainkan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat. Nilai ini menunjukkan bahwa pembangunan harus mampu menciptakan pemerataan kesempatan, bukan sekadar menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep tersebut sangat relevan. Banyak perempuan Indonesia saat ini memilih bekerja bukan semata-mata untuk mengejar karier, tetapi untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Sayangnya, masih banyak perempuan yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses pekerjaan yang layak, kesenjangan pendapatan, hingga minimnya fasilitas yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
Padahal, pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dari pembangunan yang inklusif. Penyediaan fasilitas penitipan anak, perlindungan bagi pekerja perempuan, pelatihan kewirausahaan, akses pembiayaan usaha mikro, hingga kemudahan memperoleh modal usaha akan memberikan dampak yang luas. Ketika seorang ibu memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan ekonomi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh anak-anak dan seluruh anggota keluarga.
Di sisi lain, ekonomi Islam juga memiliki instrumen distribusi kekayaan yang sangat potensial, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Keempat instrumen tersebut bukan sekadar ibadah individual, melainkan bagian dari sistem ekonomi yang bertujuan mengurangi ketimpangan sosial. Jika dikelola secara profesional dan produktif, dana sosial Islam mampu mendukung pembiayaan pendidikan, layanan kesehatan, pemberdayaan usaha mikro, hingga penguatan ekonomi masyarakat miskin.
Potensi zakat Indonesia yang sangat besar semestinya menjadi kekuatan pembangunan nasional. Dana zakat tidak hanya dapat membantu memenuhi kebutuhan konsumtif masyarakat miskin, tetapi juga dapat menjadi modal produktif yang menciptakan lapangan kerja baru. Demikian pula wakaf produktif berpotensi membiayai berbagai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Namun pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan instrumen fiskal maupun investasi. Yang tidak kalah penting adalah membangun karakter ekonomi yang berlandaskan nilai amanah, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam ekonomi Islam agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan kualitas moral masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga pembangunan yang menghadirkan rasa aman, keadilan, dan harapan. Keberhasilan pembangunan akan lebih bermakna ketika semakin banyak keluarga mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan layak, semakin banyak anak memperoleh pendidikan yang berkualitas, semakin banyak pelaku usaha kecil berkembang, serta semakin luas kesempatan masyarakat memperoleh pekerjaan yang bermartabat.
Pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya bukan hanya tercermin dalam laporan statistik tahunan, melainkan dalam senyum keluarga-keluarga Indonesia yang hidupnya semakin baik. Ketika pembangunan mampu menghadirkan keadilan distribusi, memperluas kesempatan, dan dijalankan berdasarkan nilai-nilai Islam, maka Indonesia tidak hanya akan tumbuh sebagai negara yang kuat secara ekonomi, tetapi juga menjadi bangsa yang berkeadilan, berdaya saing, dan penuh keberkahan.













