Scroll untuk baca artikel
Iklan Mobile InframeNews
Iklan InframeNews
Iklan InframeNews
HeadlineInternasional

Rudal Darat Rusia Disebut Sulit Diantisipasi Ukraina

64
×

Rudal Darat Rusia Disebut Sulit Diantisipasi Ukraina

Sebarkan artikel ini
Suasana di Kyiv setelah serangan rudal Rusia yang diklaim menggunakan rudal berbasis darat, memicu tantangan baru bagi sistem pertahanan udara Ukraina. (SS Youtube)

Inframe News, Kyiv
Senin, 20 Juli 2026

Gelombang serangan rudal Rusia ke ibu kota Ukraina disebut semakin sulit diantisipasi karena menggunakan rudal berbasis darat yang hanya memberi waktu peringatan beberapa menit sebelum menghantam sasaran.

Melansir dari Tribunnews.com, analis militer asal Inggris Alexander Mercouris menilai pola serangan terbaru Rusia menghadirkan tantangan baru bagi sistem pertahanan udara Ukraina.

Menurut Mercouris, karakteristik utama serangan tersebut bukan terletak pada jumlah rudal yang diluncurkan, melainkan jenis persenjataan yang digunakan.

Ia mengatakan seluruh rudal yang menghantam Kyiv dalam serangan terbaru diluncurkan dari peluncur berbasis darat.

Mercouris menjelaskan rudal berbasis darat memiliki kecepatan tinggi sehingga secara signifikan mempersingkat waktu peringatan sebelum mencapai target.

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan Ukraina untuk mendeteksi, melacak, hingga mencegat rudal yang datang.

Ia menyebut sistem pertahanan udara Ukraina memiliki waktu yang sangat terbatas untuk merespons gelombang serangan semacam itu.

Sehari sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah melancarkan serangan menggunakan senjata presisi tinggi ke sejumlah target militer di Kyiv.

Rusia juga menyatakan operasi tersebut melibatkan pesawat nirawak atau drone untuk menyerang sasaran militer di ibu kota maupun wilayah lain Ukraina.

Media Ukraina Strana.ua menyebut serangan tersebut sebagai salah satu gelombang rudal balistik terbesar yang menghantam Kyiv sejak perang berlangsung.

Namun, hingga kini klaim Rusia mengenai skala serangan, jenis persenjataan, maupun tingkat keberhasilannya belum dapat diverifikasi secara independen.

Pemerintah Ukraina juga belum memberikan tanggapan resmi terkait analisis Mercouris maupun klaim terbaru dari Kementerian Pertahanan Rusia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *