Scroll untuk baca artikel
Iklan Mobile InframeNews
Iklan InframeNews
Iklan InframeNews
HeadlineParigi MoutongPeristiwa

Kekeringan Parigi Moutong Berdampak 1.400 Hektare

52
×

Kekeringan Parigi Moutong Berdampak 1.400 Hektare

Sebarkan artikel ini
Kekeringan melanda sejumlah desa di Parigi Moutong hingga Jumat (21/8/2026), dengan sekitar 1.400 hektare lahan pertanian dan perkebunan terdampak.(BPBD Parigi Moutong)

Inframenews, Parigi Moutong
Sabtu, 22 Agustus 2026

Kekeringan meteorologis dan hidrologis melanda sembilan desa di Parigi Moutong hingga berdampak terhadap sekitar 1.400 hektare lahan pertanian dan perkebunan.

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Parigi Moutong, kekeringan terjadi di Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini.

Kondisi tersebut dipicu tidak turunnya hujan sejak pertengahan Juni 2026, sehingga ketersediaan air di sejumlah wilayah terus mengalami penurunan.

Wilayah terdampak meliputi Kotaraya Induk, Kotaraya Barat, Kotaraya Timur, Kotaraya Selatan, Kotaraya Tenggara, Kayu Agung, dan Ogotion.

Kekeringan juga melanda Desa Anutapura di Kecamatan Bolano Lambunu serta Desa Ambesia Barat di Kecamatan Tomini.

Dampak terbesar terjadi di Kotaraya Timur dengan sekitar 400 hektare sawah terdampak kekeringan.

Selanjutnya, sekitar 400 hektare lahan pertanian di Desa Ogotion turut terdampak kondisi kekeringan.

Di Kotaraya Selatan, sekitar 200 hektare lahan pertanian terancam mengalami gagal panen akibat kekurangan air.

Sementara itu, Kotaraya Induk, Kotaraya Barat, dan Kotaraya Tenggara masing-masing mengalami dampak pada sekitar 100 hektare sawah.

Kekeringan juga berdampak terhadap sekitar 80 hektare perkebunan di Desa Anutapura dan 20 hektare perkebunan di Ambesia Barat.

Di Desa Kayu Agung, dua kepala keluarga terdampak akibat keterbatasan ketersediaan air bersih.

Debit sumber air utama di Desa Kayu Agung kini tersisa sekitar 25 persen dibandingkan kondisi normal.

BPBD bersama aparat desa, Babinsa, dan masyarakat telah melakukan peninjauan lokasi serta asesmen terhadap wilayah terdampak.

Kebutuhan mendesak untuk menangani kondisi tersebut berupa alat dan mesin konstruksi (Alkon) serta pembangunan sumur bor.

BPBD menyebut kondisi kekeringan masih berlangsung dan debit sumber air di sejumlah wilayah terus mengalami penurunan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *