InframeNews, New York
Selasa, 21 Juli 2026
Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan FIFA yang dinilai kontroversial selama penyelenggaraan turnamen.
Melansir dari jpnn.com, Ceferin memilih absen pada laga final Spanyol kontra Argentina di Stadion New York New Jersey, meski sebelumnya menghadiri seremoni pembukaan Piala Dunia di Mexico City.
Ketidakhadiran Ceferin disebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan antara UEFA dan FIFA terkait berbagai keputusan yang diambil sepanjang turnamen.
Salah satu pemicunya adalah keputusan FIFA menangguhkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, sehingga tetap dapat tampil pada babak 16 besar.
Keputusan tersebut memicu kontroversi setelah muncul kabar adanya dorongan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar sanksi Balogun dibatalkan.
FIFA yang dipimpin Gianni Infantino membantah adanya campur tangan politik dan menegaskan keputusan diambil Komite Disiplin independen.
Namun, UEFA menilai langkah tersebut berpotensi mencederai kredibilitas dan integritas kompetisi.
Perselisihan juga muncul ketika wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal memasuki Amerika Serikat karena persoalan imigrasi.
Sebagai respons, UEFA justru menunjuk Omar Artan untuk memimpin laga Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain melawan Aston Villa.
UEFA juga mengkritik penerapan hydration break selama Piala Dunia yang dinilai mengganggu ritme pertandingan demi kepentingan komersial.
Selain itu, durasi jeda babak final yang berlangsung hampir 30 menit dianggap bertentangan dengan standar sepak bola internasional yang umumnya hanya memberikan waktu istirahat 15 menit.
Kebijakan dynamic pricing pada penjualan tiket juga menjadi sorotan karena membuat harga tiket melonjak dan dinilai memberatkan suporter.
UEFA menegaskan EURO 2028 tetap akan menggunakan sistem harga tiket yang lebih terjangkau tanpa menerapkan mekanisme tersebut.
Perbedaan pandangan juga terjadi terkait rencana FIFA menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara.
UEFA dikabarkan tidak mendukung usulan tersebut karena dinilai berpotensi mengurangi kualitas kompetisi.
Di tengah polemik tersebut, Spanyol berhasil menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu.
Kini perhatian tertuju pada hubungan FIFA dan UEFA yang diperkirakan masih akan memanas menyusul berbagai perbedaan kebijakan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.(*)













